Minggu, 11 Januari 2015

RPP Versi Sederhana

RPP Versi Sederhana

Kota Tangerang, 10 Januari 2015

Pukul 20. 30 WIB  tadi penulis baru saja mencoba membuat rencana  pelaksanaan
pembelajaran versi sederhana. Jarang guru yang mau membawa RPP-nya ke
dalam kelas, karena ada di dalam program silabus. Atau pun jika dalam bentuk
penggalannya, belum tentu dibuat. Alasannya :
1. tidak ada waktu
2. malas membuat, karena berlembar-lembar
3. susah menyusun, karena perlu dipikirkan kalimatnya.


Meskipun tidak sesuai ketentuan baku, penulis sudah membuatnya seperti ini.
Hanya 2 lembar dan disusun yang paling mudah.
14209049501701338991
halaman 1 (lembar 1) versi-ku
Kemudian yang halaman ke-2 sebagai berikut :
1420905062449512181
halaman 2 (lembar 2) versi-ku
Ini khusus yang akan kubawa ke dalam kelasku. Praktis dan tak berbelit-belit, serta tidak melelahkan pikiran.

RPP di atas merupakan RPP versi sederhana KTSP yang Saya buat. Untuk guru yang sekolahnya pakai K-13, dapat membuatnya menurut versi sederhana K-13.

Versi ini dibuat di luar supervisi. Jika akan disupervisi, penulis akan membuat yang sudah baku. Versi sederhana ini untuk menunjang kelengkapan administrasi guru, yang memang diwajibkan. Mau ribet atau mudah ?

Sabtu, 10 Januari 2015

Panjang Gelombang

Panjang Gelombang

OPINI Kota Tangerang, 10 Januari 2015
Tahun baru ini sampai tanggal 09 Januari gaji PNS belum masuk ke rekeningku.
Ini hari Sabtu, mana mungkin ada transaksi transferan. Yah menunggu saja
sampai Senin Sore tanggal 12 Januari. Biasanya kalau yang sudah-sudah, paling
lambat tanggal 05 Januari.
Daripada iseng, lebih baik aku menulis tentang kumpulan tulisan rumus panjang gelombang yang terserak-serak.
Tulisanku tentang rumus panjang gelombang berseri 1 sampai 7.
Rumus Panjang Gelombang
Rumus Panjang Gelombang (2)
Rumus Panjang Gelombang (3)
Rumus Panjang Gelombang (4)
Rumus Panjang Gelombang (5)
Rumus Panjang Gelombang (6)
Rumus Panjang Gelombang (7)
Penulis tidak akan menulis lagi untuk seri berikutnya. Karena sudah cukup
jelas dan ada penjelasannya di bawah ini :
Pembuktian Rumus Panjang Gelombang

Guru Tak Yakin K-13 Meningkatkan Kompetensi Siswa

Guru Tak Yakin K-13 Meningkatkan Kompetensi Siswa

OPINI Kota Tangerang, 10 Januari 2015
Kemarin aku melihat anggota OSIS yang kelas VII  dari jam ke-1 sampai terakhir
siang hari tidak masuk kelas, karena sibuk mengepak bantuan untuk korban
bencana. Entah bencana apa, sehingga mereka begitu semangat tidak masuk
kelas. Anggota OSIS memang sudah sering kuingatkan, agar tidak mengesamping-
kan kehadiran di kelas. Nyatanya susah sekali, tetap saja berkali-kali seperti itu.
Mungkin bagi mereka nilai itu mudah atau menganggap gampang, karena sudah
mendapat dispensasi.

Kurikulum 2013

Banyak guru yang tak yakin K-13 akan meningkatkan kompetensi siswa.
Guru terlalu banyak terbebani dengan penilaian. Ini bukan omong kosong.
Peserta didik diberi tugas dan mengolah sendiri. Di dalam kelas, pengajarannya
lebih kepada orientasi siswa.
Sebagai guru IPA, aku tak yakin siswa dapat mengerti sebuah rumus, apabila
disuruh mencari sendiri rumus tersebut dan menyelesaikan sendiri tanpa
bimbingan guru. Tapi bagi siswa yang ikut bimbel di luar sekolah, kemungkinan
tidak ada masalah. Namun apakah sekolah kalah dengan bimbel ? Dan fungsi guru
hanya fasilitator ? Sekiranya sekolah pun membuat bimbel, berarti fungsi
sekolah hanya tempat mencari nilai, bukan mencari ilmu.
Tahun Penolakan
Di Sekolah Kognitif Sudah Ditinggalkan
Efek Nilai KKM dalam Dunia Pendidikan
Hapuskan KKM
Proses Belajarnya atau Hasilnya
Generasi Emas Itu Hanya Isapan Jempol
Istighosah Untuk UN  Tidak Perlu Dilakukan
Sebaiknya Kurikulum 2013 Dihentikan

Children Oriented (Student Oriented)  dalam K-13 cenderung membuat
siswa kekurangan bekal ilmu dari guru. Guru yang sarat pengalaman
Insya Allah menurunkan ilmunya kepada anak-anak asuhannya.
Sekarang apa yang terjadi ? Hanya siswa itu-itu saja yang bagus, karena
di rumahnya sudah dibekali perangkat gadget yang mendukungnya,
serta belajar dari bimbel di luar. Sedangkan anak-anak yang tidak mampu
secara ekonomi, akan bergantung kepada gurunya. Inilah yang sangat
mendasar dalam pengajaran.
Jangan Tinggalkan Pembelajaran Konvensional
Ini adalah masukan-masukan bagi Kementerian Kebudayaan dan Pendidikan
Dasar dan Menengah untuk memperhatikan dunia pendidikan.
Saran-saran guru lebih dipertimbangkan. Sebab ujung tombak pendidikan
ada di pundak para guru.